Sabtu, 20 Oktober 2012

Book Review "Pendidikan Islam"



PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah
“ PENCIPTAAN SUASANA RELIGIUS DI SEKOLAH”
Prof. Dr. H. Muhaimin, MA
PENDEKATAN DALAM PENGKAJIAN PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pembimbing
Dr. H. SYAMSUN NI’AM, M.Ag

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sebagai sebuah proses yang berlangsung secara cepat dan dinamis,  pendidikan Islam  termasuk yang paling banyak menghadapi problematika. Berbagai aspek yang terkait dengan kegiatan pendidikan Islam, mulai dari dasar dan landasan pendidikan, kurikulum, metodologi pembelajaran, tenaga pendidik dan lainnya, yang secara keseluruhan mengandung permasalahan yang hingga kini belum ada penyelesaian.Kita seringkali merasa heran,  mengapa  prilaku para remaja atau bahkan tingkah laku tokoh elit politik, birokrasi pemerintahan ini memprihatinkan dan menjengkelkan. Adakah yang salah dalam transformasi nilai dalam system pendidikan kita selama ini?
Fenomena anak yang dididik di madrasah memiliki prilaku yang sama dengan di sekolah umum, seperti tidak menjalankan shalat lima waktu secara lengkap, tidak berpuasa, kasus narkoba dan masih banyak lainnya.
Pendidikan diartikan hanya sebagai transformasi ilmu pengetahuan dan transformasi ilmu agama,  kedua model metode pengajaran tersebut merupakan cara pembelajaran pada kebanyakan pendidikan kita. Akhirnya bukan tidak mungkin nantinya pendidikan kita akan menghasilkan orang-orang yang pandai dalam berteori tapi miskin moral, serta kurang cerdas dalam mengembangkan teori dan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dibangku sekolah.
Akibatnya siswa-siswi semakin jauh dari nilai-nilai agama yang diajarkan di sekolah, karena siswa-siswi hanya difungsikan sebagai keranjang ilmu pengetahuan oleh pendidiknya.Kekurangtepatan metode ini perlu diperbaiki, agar ilmu pengetahuan khususnya ilmu moralitas dan etika dapat terinternalisasi dalam diri siswa dan siswa tergerak untuk mangaplikasikan nilai-nilai ilmu tersebut.



B.     Biografi Singkat Tokoh
Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A. dilahirkan di Lumajang, 11 Desember 1956, dosen tetap sekaligus Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Agama di UIN Malang, ia adalah putra pasangan H. Soelchan (alm) dan Hj. Chotimah (alm.). Berturut-turut ia menempuh pendidikan di MI Lumajang (1969), PGAN 4 Tahun (1973), PGAN 6 Tahun Lumajang (1975), Sarjana muda Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang (1979) dan Sarjana Lengkap padaIAIN Sunan Ampel fakultas Tarbiyah Malang (1982), S2 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1989), dan S3 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Ia telah meniti kariernya sejak dari bawah, yaitu mulai dari menjadi Pegawai Harian Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang (1982-1984), Kasi Pengajaran pada Fakultas yang sama (1985-1987), kemudian diangkat menjadi dosen tetap padaFakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang/STAIN Malang (sejak 1985), dan menjadi Guru Besar pada UIN Malang (2003 s.d. sekarang). Pada 1996 ia diangkat sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang, pada 1998-2005 ia diangkat sebagai Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) pada UIN Malang, dan menjadi Pembantu Rektor II pada institusi yang sama hingga tahun 2007. Sejak 2009 hingga sekarang, ia menjadi Direktur Program Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan keahliannya di bidang Ilmu Pendidikan Agama, ia diminta bantuannya untuk mengajar di beberapa Program Pascasarjana (S2 dan S3) terutama pada UIN Malang, STAIN, IAIN, dan PTAIS di wilayah Jawa Timur, serta menjadi External Examiner disertasi Ph.D pada University Kuala Lumpur Malaysia, dan salah satu tim penilai kenaikan jabatan ke Guru Besar Madya pada Universiti Sains Islam Malaysia.
Ia aktif menulis buku, melakukan penelitian, nara sumber di berbagai seminar (lokal, nasional, dan Internasional) dan workshop, serta kegiatan pelatihan, dan menulis artikel di beberapa majalah dan surat kabar.Disamping itu, ia juga menulis buku-buku diktat kuliah yang dipublikasikan dikalangan mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
(PENCIPTAAN SUASANA RELIGIUS DI SEKOLAH)
A.      Suasana Religius di Sekolah
Pada dasarnya, manusia dilahirkan dalam keadaan suci.Kesucian manusia itu biasanya dikenal dengan istilah “fitrah”.Fitrah tersebut menjadikan diri manusia memiliki sifat dasar kesucian, yang kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci pula kepada sesamanya. Fitrah yang dimiliki manusia merupakan kelanjutan dari perjanjian antara manusia dengan tuhan, yaitu suatu perjanjian sebelum ia lahir kedunia dengan tuhan. Dalam perjanjian tersebut manusia telah menyatakan bahwa ia akan mengakui tuhan sebagai pelindung dan pemelihara (Rabb) satu-satunya bagi dirinya. Hal ini tercermin dalam dialog antara Tuhan dengan ruh manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, surat Al-A’raf ayat 172. “…bukankah aku ini Tuhanmu? Kemudian ruh manusia itu menjawab: benar, kami telah menyaksikan”.
Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, dalam diri manusia terdapat berbagai macam fitrah yang antara  lain adalah fitrah agama, fitrah suci, fitrah berakhlak ,fitrah kebenaran dan fitrah kasih sayang.
1.      Fitrah Agama 
Dalam Al-qur’an surat Al-A’raf:172 dinyatakan bahwa fitrah beragama manusia sudah tertanam kedalam jiwa manusia semenjak dari alam arwah terdahulu, yaitu sewaktu ruh manusia belum ditiupkan oleh Allah kedalam jasmaninya. Dengan demikian, fitrah agama yang ada dalam diri manusia itu ialah fitrah beragama islam. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil sebagai berikut.a). Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan beragama Islam, Sabda beliau: “ tidaklah dilahirkan seorang anak, melainkan atas agama ini (islam) hingga menjelaskan akan lidahnya”. (HR. Muslim). b). Agama yang diakui oleh Allah ialah agama Islam, sebagaimana firman-Nya ;” sesungguhnya agama disisi Allah ialah agama Islam.” (QS. Ali Imran:19). c). Semua Nabi/Rasul Allah adalah beragama Islam. d). Allah menyatakan bahwa orang-orang yang tidak beragama Islam adalah seburuk-buruk makhluk melata dibumi ini, sebagimana firman-Nya dalam QS. Al-anfal : 55,  e). para sarjana telah membuktikan bahwa agama yang benar hanyalah agama Islam. seperti hasil studi yang dilakukan oleh Dr. Maurice Bucaille; setelah meneliti selama 20 tahun, kemudian ia mengatakan.”  Agama Yahudi dan Kristen itu adalah tidak asli lagi, sejarahnya tidak terang dan banyak pernyataan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan.Sedangkan agama Islam masih asli, sejarahnya terang.
2.         Fitrah Berakhlak
Ajaran Islam menyatakan secara tegas sekali bahwa Nabi Muhammad SAW diutus kepada manusia adalah untuk menyempurnakan moral/akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya : “ Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak (moral) yang baik/mulia.” (HR. Bukhori, Hakim dan Baihaqi). Hadits tersebut memberi pengertian bahwa pada mulanya manusia sudah mempunyai fitrah bermoral/berakhlak, sedangkan Nabi diutus hanya untuk menyempurnakan atau mengembangkannya..menurut Prof. Dr. N. Drijarkara S.J bahwa “moral adalah tuntutan kodrati manusia”.
3.         Fitrah Kebenaran
Didalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa manusia mempunyai  kemampuan untuk mengetahui kebenaran, sebagaimana firman-Nya yang artinya,” maka adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa itu benar-benar dari tuhan mereka” (QS. Al-Baqarah:26). Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mencari dan mempraktikkan kebenaran. Menurut Endang Saifuddin Anshari: “ manusia adalah makhluk berfikir, berfikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari jawaban tentang Tuhan, alam, dan manusia.Jadi pada akhirnya, manusia adalah makhluk pencari kebenaran.”
4.         Fitrah Kasih Sayang
Menurut Al-Qur’an, dalam diri manusia telah diberi Allah fitrah kasih sayang, hal ini sebagaimana firman-Nya:” dan Dia jadikan diantara kamu percintaan dan kasih sayang” (QS. Ar-Rum:21). Berdasarkan ayat tersebut maka dapat dikatakan bahwa manusia sudah diberi fitrah kasih sayang oleh Allah SWT dan manusia memang ingin mengasihi dan dikasihi.
B.       Suasana Religius dan/atau Agamis
Religiusitas (kata sifat: religius) tidak identik dengan agama. Mestinya orang yang beragama itu adalah sekaligus orang yang religius juga.Namun banyak terjadi, orang penganut suatu agama yang gigih tetapi dengan bermotivasi dagang atau peningkatan karier. Ada hal lain lagi yang perlu diakui, secara lahiriah ia tidak begitu cermat menaati ajaran-ajaran agamanya, bahkan boleh jadi oleh teman-temannya dia dicap komunis/ateis/kafir. Namun tidak mustahil orang yang dicap demikian ternyata memiliki rasa keadilan yang mendalam.Ia cinta pada yang benar dan benci pada segala kebohongan serta kemunafikan. Ia boleh jadi bukan orang yang sempurna atau teladan, akan tetapi toh terasa dan jujur harus diakui bahwa ia manusia yang baik dan mempunyai antena yang religius.
Keberagamaan atau religiusitas lebih melihat aspek yang “didalam lubuk hati nurani” pribadi, sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas  jiwa. Dan karena itu, pada dasarnya religiusitas mengatasi atau lebih dalam dari agama yang tampak formal, resmi.
Ada tiga tahapan yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk meningkatkan kualitas jiwanya. Pertama, melakukan dzikir atau ta’alluq pada tuhan, yaitu seseorang harus berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah.Dimanapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhan-Nya (QS. 3:191).Kedua, Takholluq, yaitu seseorang secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan kedalam diri manusia. Sesuai hadits nabi yang berbunyi, “takhallaqu bi akhlaqi–Allah”. Ketiga, Tahaqquq yaitu seseorang harus bisa mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin atau agamis yang dirinya sudah di “dominasi” sifat-sifat tuhan sehingga tercermin dalam prilakunya yang serba suci dan mulia.
C.      Urgensi penciptaan Suasana Religius di Sekolah
Berbicara tentang suasana religius merupakan bagian dari kehidupan religius yang tampak dan untuk mendekati pemahaman kita tentang hal tersebut, terlebih dahulu perlu dijelaskan tentang konsep religiusitas.
Glock & Stark (1996) dalam Ancok (1995:76) menjelaskan bahwa agama adalah system symbol, system keyakinan, system nilai dan system prilaku yang terlembagakan, yang kesemuanya itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi. Menurut Glock dan stark dalam Rertson(1998), ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu :
1.      Dimensi Keyakinan, berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin tersebut.
2.      Dimensi Praktik Agama, mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terbagi atas dua kelas penting, yaitu Ritual dan ketaatan.
3.      Dimensi Pengalaman, dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supranatural.
4.      Dimensi Pengetahuan Agama, mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak meiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi-tradisi.
5.      Dimensi Pengamalan atau konsekuensi, mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.
Dalam kaitannya dengan upaya penciptaan suasana religius tersebut, berikut ini dikemukakan beberapa hasil penelitian antara lain Muhaimin, Suti’ah dan Nur Ali (1998), tentang penciptaan suasana religius pada sekolah-sekolah menengah umum di Kodya Malang. Para peneliti menemukan beberapa temuan: antara lain  bahwa penciptaan suasana religius di sekolah umum di Kodya Malang dimulai dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan yang pelaksanaannya dilaksanakan di lingkungan sekolah. Kegiatan keagamaan seperti khatmil Al-Qur’an dan istighatsah yang ditemukan dalam penelitian Muhaimin, dkk, (1998) tersebut dapat menciptakan suasana ketenangan dan kedamaian di kalangan civitas akademika sekolah.Berdasarkan pada temuan ini, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan keagamaan di sekolah umum dimulai dengan adanya peristiwa dan cerita-cerita yang unik dan adanya ketenangan batin.Kegiatan tersebut juga dapat menciptakan suasana ketenangan, kedamaian, persaudaraan, persatuan serta silaturrahmi antar sesama pimpinan, para guru, karyawan dan para siswa.
Menurut Muhaimin, Abd. Ghofir dan Nur Ali (1996, hlm. 148) bahwa dalam pembelajaran agama perlu digunakan beberapa pendekatan, antara lain: (i) pendekatan pengalaman, yakni memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan; (ii) pendekatan pembiasaan, yakni memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya dan atau akhlak mulia. Dari sini dapat dikatakan bahwa strategi penanaman nilai-nilai agama pada siswa oleh para guru  dilakukan dengan cara mengadakan suatu pendekatan secara langsung, yaitu pengalaman dan pembiasaan melakukan khatmi Al-Qur’an, istighatsah, salat berjema’ah dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya secara terprogram dan rutin pada waktu-waktu yang telah ditentukan. 
D.           Model-model Penciptaan  Suasana Religius di Sekolah
Model adalah sesuatu yang dianggap benar, tetapi bersifat kondisional. Karena itu, model penciptaan suasana religius sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tempat model itu akan diterapkan beserta penerapan nilai-nilai yang mendasarinya. Ada beberapa macam model-model penciptaan suasana religius, antara lain: (1). Model Struktural, yaitu penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya peraturan-peraturan, pembangunan kesan, baik dari dunia luar atas kepemimpinan atau kebijakan  suatu lembaga pendidikan atau suatu organisasi. Model ini bersifat “top-down” yakni kegiatan dibuat atas prakarsa atau intruksi dari pejabat/pimpinan atasan. (2). Model Formal, yaitu penciptaan suasana religius yang di dasari atas pemahaman bahwa pendidikan agama adalah upaya manusia untuk mengajarkan masalah-masalah kehidupan akhirat saja atau  kehidupan rohani saja. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku agama yang loyal, memiliki sikap comitment (keperpihakan) dan dedikasi (pengabdian yang tinggi terhadap agama yang dipelajarinya).Sementara itu, kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, analitis-kritis, dianggap dapat menggoyahkan iman sehingga perlu ditindih oleh pendekatan keagamaan yang bersifat normative dan doktriner. (3). Model mekanik, penciptaan suasana religious yang didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri dari berbagai aspek; dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai  kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya.


E.       Kritik, Apresiasi dan Komentar

1.      Buku Paradigma Pendidikan Islam karya Prof. Dr. H Muhaimin, M.A. merupakan kumpulan tulisan beliau, tidak fokus membahas satu persoalan atau satu temasaja .
2.      Pada buku ini belum menyinggung produktivitas dan target sekolah, seperti apa yang disampaikan oleh Qomar (2007: 298) dalam buku Manajemen Pendidikan Islam bahwa criteria keberhasilan manajemen pendidikan Islam adalah produktivitas pendidikan yang dapat diukur dari sudut efektifitas dan efisiensi pendidikan.
3.      Kehadiran buku ini, mencoba memberikan gambaran tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan Islam, terlebih dengan kondisi saat ini yaitu terjadinya kemerosotan moral baik dilingkungan masyarakat ataupun dilingkungan sekolah. Menurut Abuddin Nata (2005: 181) mempelajari Islam dengan segala aspeknya tidak cukup hanya dengan menggunakan metode ilmiah. Begitu juga Islam tidak dapat hanya dipahami dengan metode doktriner. Kedua metode tersebut harus dipadukan sehingga kita dapat mempelajari dan memahami Islam secara utuh dan komprehensif. Disiplin ilmu umum beserta metode-metode dasar, prinsip, problema, tujuan, hasil-hasil pencapaian dan keterbatasannya harus dikaitkan kepada khazanah Islam.
4.      Pada buku ini belum menyinggung factor-faktor penyebab tidak terciptanya suasana religius di sekolah. Seperti apa yang disampaikan oleh Abuddin Nata (2003: 191 ) dalam buku Manajemen Pendidikan, bahwa salah satu sebab timbulnya perilaku menyimpang dikalangan remaja ialah longgarnya pegangan terhadap agama sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai terdesak.


BAB III
PENUTUP

Buku-buku Pendidikan Islam selama ini lebih bersifat teoritis dan banyak membicarakan hal-hal yang menyangkut fundasionalis filosofis, karena kegiatan pendidikan hanya concern terhadap persoalan-persoalan operasional.  Diantara kelemahan dari kajian pendidikan Islam yang selama ini tertulis dalam literatur-literatur kependidikan Islam adalah mereka kaya konsep fundasional atau kajian teoritis, tetapi miskin dimensi operasioanal atau praktisnya, atau sebaliknya kaya praktik/operasional, tetapi lepas dari konsep fundasional atau teoritiknya.
Kehadiran buku Paradigma Pendidikan Islam ini, berupaya untuk mengkaji keduanya sekaligus, yang difokuskan pada pandangan mendasar tentang persoalan Pendidikan Islam dan pengembangannya dalam konteks desain pembelajaran Pendidikan Islam.Kajian dalam buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan pemikiran Pendidikan Islam yang sekaligus diaktualisasikan dalam bentuk perencanaan atau desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam.








DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, 2002, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nata Abuddin, 2005, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Nata Abuddin, 2003,Manajemen Pendidikan, Jakarta: Kencana
Qomar Mujammil, 2007,Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta : Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar