Sabtu, 20 Oktober 2012

Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan


Makalah 
Pengambilan Keputusan Perspektif MMTP
oleh: Imam Fathollah
Pascasarjana STAIN Jember
Dosen Pengampu: Dr. H. Suhadi Winoto, M.Pd
Makul : MMTP
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam sebuah organisasi pengambilan keputusan adalah salah satu dari proses manajemen yang sangat penting. Hal ini dikarenakan bahwa pada hakekatnya fungsi-fungsi manajemen lainnya dilatar belakangi oleh adanya sebuah keputusan yang diambil oleh seorang manajer yang kemudian secara hirarkis dibuat oleh lini-lini manajemen di tingkat staf-staf yang diperlukan.
Salah satu tolak ukur yang biasa dipakai untuk mengukur efektifitas kepemimpinan seseorang yang menduduki jabatan pimpinan dalam suatu organisasi ialah kemampuan dan kemahirannya mengambil keputusan. Suatu keputusan dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik apabila memenuhi empat persyaratan yaitu rasional, logis, realistis dan pragmatis.[1]
Hal tersebut dapat dicapai apabila seorang pengambil keputusan mampu menggabungkan secara tepat tiga jenis pendekatan :
Pertama: pendekatan yang didasarkan pada teori dan asas-asas ilmiah yang telah dikembangkan oleh para teoritisi yang mendalami proses pengambilan keputusan.
Kedua   :  pendekatan yang memanfaatkan kemampuan berfikir yang kreatif, inovatif dan intuitif dibarengi dengan keterlibatan secara emosional disamping merupakan sesuatu yang sifatnya generik, juga berkembang karena kemampuan memperhitungkan dampak situasional, kondisional, temporal dan spasial.
Ketiga   : kemampuan belajar dari pengalaman mengambil keputusan di masa lalu, baik  karena keberhasilan maupun karena kekurang berhasilan dalam pelaksanaannya atau bahkan mungkin kegagalan-kegagalan.[2]
Di dalam organisasi sekolah, pengambilan keputusan penting bagi manajer pendidikan karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasi, koordinasi dan perubahan organisasi. Setiap keputusan yang diambil manajer berpengaruh terhadap pelanggan pendidikan terutama peserta didik. Oleh karena itu, setiap manajer pendidikan harus memiliki ketrampilan mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
B.  Permasalahan
Dalam makalah ini akan diuraikan masalah yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan diantaranya pengertian pengambilan keputusan, basis pengambilan keputusan, model-model pengambilan keputusan dan contoh pengambilan keputusan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian  Pengambilan Keputusan
Menurut G.R. Terry, sebagaimana  dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan adalah “pemilihan alternatif  kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.”[3] Harold Koontz dan Cyril O”Donnel, et.all. menyatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara alternatif. Alternatif mengenai cara bertindak adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan, sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat. Amirullah dan Rindyah  (2002) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai suatu proses penilaian dari berbagai alternatif sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling menguntungkan.
Sedangkan Sondang P. Siagian mengemukakan pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang atas alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang paling tepat.[4]
Definisi lain juga dikemukakan oleh Husaini Usman pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan adalah proses memilih sejumlah alternatif. Proses pengambilan keputusan sangat berperan dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasi, koordinasi dan perubahan organisasi. Karena itu keputusan yang diambil manajer/administrator pendidikan berpengaruh bagi pelanggan pendidikan terutama peserta didik.[5]
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengambilan keputusan dalam manajemen adalah suatu proses bagaimana menetapkan suatu keputusan yang terbaik, logis, rasional dan ideal berdasarkan fakta, data dan informasi dari sejumlah alternatif untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan dengan resiko terkecil, efektif dan efisien untuk dapat dilaksanakan pada masa yang akan datang.[6]
B.       Basis Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan (decision making) yang dilakukan oleh manajer (decision maker) biasanya didasarkan atas :[7]
1.      Keyakinan
Manajer dalam pengambilan keputusannya didasarkan atas keyakinan bahwa “keputusan” inilah yang terbaik setelah diperhitungkan, dianalisis faktor-faktor internal dan eksternal serta dampak positif dan negatif dari keputusan tersebut. Jadi keyakinanlah yang dijadikan sebagai basis pengambilan keputusan oleh manajer.
2.      Intuisi
                        Manajer dalam pengambilan keputusan didasarkan atas suara hati (intuisi), bersifat ilham dan perasaan-perasaan (good feeling)-nya. Sasaran-sasaran, pengaruh, preferensi-preferensi, dan psikologis individu pengambil keputusan memegang peranan penting. Di sini ilmu subjektif sangat vital. Pengambilan keputusan secara intuitif ini secara tidak sadar dipengaruhi oleh pengetahuan masa lalu, latihan-latihan dan latar belakang. Biasanya ia seorang aktifis, dinamis, dan senantiasa bertanya tentang situasi-situasi dan ia menemukan pemecahan atas problem-problem sulit. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi biasanya mengandalkan naluri, perasaan pribadi, kemampuan mental, tetapi setiap situasinya dihadapinya dengan sikap realistis dan memutuskannya menurut perasaan saja.
3.      Fakta-fakta
Keputusan diambil berdasarkan atas hasil analisis data, informasi, dan fakta-fakta, serta didukung oleh kemampuan imajinasi, pengalaman, perspektif yang tepat, dan daya pikir untuk mengimplementasikan situasi dan kondisi masa depan. Dalam hal ini manajer jangan menjadi robot analisis data, informasi dan fakta yang komplit. Keputusan yang ditetapkan berdasarkan fakta-fakta ini relatif baik, logis, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan serta bisa diterapkan pada setiap situasi dan kondisi.
4.      Pengalaman
Pengambilan keputusan didasarkan atas pengalaman dan pengalaman pihak lain. Pengalaman sangat berharga, memberikan petunjuk-petunjuk dan memberikan jawaban atas pertanyaan apa yang harus dilakukan dalam suatu situasi dan kondisi.
5.      Kekuasaan
                        Pengambilan keputusan yang berpedoman atas kekuasaan (authority) yang dimilikinya, supaya keputusan itu sah dan legal untuk diberlakukan. Hal ini disebabkan authority merupakan dasar hukum untuk bertindak dan berbuat sesuatu.
C.      Model-model pengambilan Keputusan Perspektif MMT
Dalam Proses pengambilan keputusan ada beberapa pendapat tergantung modelnya.
  1. Keputusan Auto Generated dan keputusan Induced
a.         Keputusan Auto Generated
Pengambilan keputusan ini diambil secara cepat dan kurang memperhatikan data, informasi, fakta dan lapangan keputusannya. Keputusan model ini kurang baik karena resikonya cukup besar. Keputusan ini diambil dalam keadaan darurat. Namun bila pengambil keputusan dapat melakukannya dan berhasil baik maka pemimpin tersebut akan cepat maju.
b.         Keputusan Induced
Pengambilan keputusan ini berdasarkan scientific management atau manajemen ilmiah, sehingga model keputusan ini logis, ideal, rasional untuk dilaksanakan dan resikonya cukup kecil, namun proses pengambilannya lambat.[8]
  1. Individual decision, keputusannya ditetapkan oleh hanya seorang manajer. Sedangkan bawahannya hanya dapat berpartisipasi memberikan saran-saran, pendapat-pendapat  serta informasi saja, namun tidak berhak untuk memutuskannya. Ada beberapa kebaikan serta keburukan  dalam individual decision.
Kebaikannya:
a)    Keputusannya dapat diambil secara cepat
b)   Penanggung jawab keputusan itu jelas
c)    Biaya pengambilan keputusan relatif kecil
d)   Kecakapan seorang manajer dapat dimanfaatkan

Keburukannya:
a)         Keputusan kurang baik karena kemampuan decision maker terbatas
b)        Prestise manajer akan berkurang jika keputusannya ternyata salah
c)         Realisasi keputusan mengalami kesulitan sebab bawahan kurang  merespon
d)        Pembinaan bawahan kurang diperlukan
  1. Group Decision, keputusan ini ditetapkan oleh para anggota, baik hasil musyawarah mufakat maupun voting.
Kebaikannya :
a)         Keputusan relatif lebih baik, logis, ideal karena merupakan pemikiran orang banyak
b)        Kecenderungan untuk bertindak otoriter dapat dihindarkan
c)         Kerja sama akan lebih bisa ditingkatkan
d)        Resiko dan dampak negatif dari keputusan sendiri kecil
Keburukannya :
b)        Pengambilan keputusan relatif lama
c)         Biaya lebih banyak
d)        Penanggung jawab hasil keputusan kurang jelas
e)         Minoritas kadang terpaksa menyetujui[9]
  1. Kalau dilihat dari situasi saat pengambilan keputusan dilakukan, Kadarusman,et.al (1996) membedakan keputusan kedalam dua jenis yaitu :
a)      Programed decision ( keputusan terpogram)
Keputusan terpogram adalah keputusan yang dibuat dan disesuaikan dengan suatu kebiasaan, peraturan dan prosedur yang berlaku di suatu organisasi atau keputusan yang terstruktur dan muncul berulang-ulang.[10] Keputusan yang selalu diulang kembali.[11]
b)      Non Programed Decision ( keputusan yang tidak terpogram)
Keputusan yang tidak terpogram adalah keputusan yang dibuat berkaitan dengan masalah-masalah yang unik dan luar biasa.[12] Dalam pengambilan keputusan tidak terpogram tidak ada prosedur yang pasti untuk menangani persoalan, karena persosalan tidak muncul persis sama dengan sebelumnya atau karena persoalan itu rumit dan sangat penting.
  1. Pengambilan Keputusan Klasik  
Model pengambilan keputusan klasik berasumsi bahwa keputusan merupakan proses rasional dimana keputusan diambil dari salah satu alternatif terbaik.[13]
  1. Pengambilan Keputusan Prilaku
Model ini didasarkan pada seberapa jauh keputusan itu dapat memberikan kepuasan. Model ini juga mempertimbangkan pengambilan keputusan atas dasar rasionalitas konstektual dan rasionalitas respektif. Rasionalitas konstektual artinya keputusan tidak hanya didasarkan oleh ketentuan tersurat (tekstual), tetapi juga yang tersirat (konstektual).

  1. Pengambilan keputusan berdasarkan manfaat
Dasar pemikiran Pengambilan keputusan berdasarkan manfaat adalah:
a.       Mutu kepuasan
b.      Kreatifitas kepuasan
c.       Penerimaan keputusan
d.      Pemahaman keputusan
e.       Pertimbangan keputusan
f.       Ketepatan keputusan
  1. Pengambilan Keputusan berdasarkan lapangan
Model ini paling banyak digunakan sekolah karena ingin melibatkan partisipasi warga sekolah dalam mengambil keputusan. Lima teknik penting dalam pengambilan keputusan berdasarkan lapangan adalah a) Curah pendapat (brainstorming), b) Teknik grup minimal c) Teknik delphi d) pembela yang menantang apa yang dianggap baik (devil’s advocate.
  1. Pengambilan keputusan Pohon Masalah
Pohon masalah  adalah suatu teknik untuk mengidentifikasi masalah dalam situasi tertentu, menyusun dan memperagakan informasi ini sebagai rangkaian sebab akibat.
  1. Pengambilan keputusan strategis Hunger & Wheelen
Keputusan strategis ialah keputusan jangka panjang, jangka panjang dilingkungan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota adalah lima tahunan. Sehingga perencanaan strategis (renstra) berlaku lima tahun. Namun jangka panjang dilingkungan dunia pendidikan adalah 4 tahun sampai 10 tahun. Jangka menengah satu tahun lebih sampai 4 tahun dan jangka pendek satu tahun.[14]




D.      Contoh Pengambilan Keputusan
1.      Cara Pengambilan  Keputusan Klasik







Identivikasi masalah
 


 



2.       Cara pengambilan keputusan Pohon Masalah
Pohon masalah (Pernyataan Negatif)


Rendahnya mutu pendidikan
 
 
 Akibatnya  
Buruknya mutu pendidikan
 
Masalahnya
Penyebabnya

















Lemahnya kepemimpinan pendidikan
 

Lambatnya memecahkan  masalah
 

Kurang baiknya koordinasi
 

Rendahnya motivasi kerja
 



Kurang baiknya komunikasi
 

 







Pohon sasaran (pernyataan positif)


Terwujudnya mutu pendidikan yang tinggi
 
 


 Akibatnya  
Terciptanya manajemen yang baik
 
Masalahnya
Penyebabnya
 

BAB III
KESIMPULAN

          Masalah pengambilan keputusan merupakan hal yang paling mendasar dimiliki oleh decision maker demi kesuksesan sebuah organisasi. Pemahaman terhadap akar permasalahan adalah hal yang dominan sehingga pengambilan keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Pengambilan keputusan juga mutlak dibutuhkan bagi manajer pendidikan Islam dengan usaha meminimalisir resiko, pemanfaatan dan penghematan anggaran serta efisiensi dan efektivitas sebuah kegiatan.  
Pengambilan keputusan dalam organisasi merupakan usaha yang rasional dari administrator untuk mencapai tujuan-tujuan dari unit yang mejadi tanggung jawabnya. Prosesnya yang mulai dan berakhir dengan pertimbangan memerlukan kreativitas, ketrampilan kuantitatif dan wawasan
Inti dari pengambilan keputusan adalah terletak dalam perumusan berbagai alternatif tindakan sesuai dengan yang sedang dalam perhatian dan dalam pemilahan alternatif yang tepat setelah suatu evaluasi (penilaian) mengenai efektifitasnya dalam mencapai tujuan yang dikehendaki pengambil keputusan.
Dalam pengambilan keputusan terdapat beberapa langkah yang harus diambil oleh pemimpin sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi adalah: mendefinisikan/ menetapkan masalah terlebih dahulu, menentukan pedoman pemecahan masalah, mengidentifikasi alternatif, mengadakan penilaian terhadap alternatif yang telah didapat, memilih alternatif yang baik dan implementasi alternatif yang dipilih. 
DAFTAR PUSTAKA


Amirullah. Hanafi, Rindyah, 2002, Pengantar Manajemen, Jakarta: Graha Indah
Hasibuan, Malayu S.P., 2002, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara
Hasibuan, Malayu S.P., 1990, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah, Jakarta: CV. Haji Masagung
Siagian, Sondang P, 1990, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan, Jakarta: CV. Haji Masagung
Usman,  Husaini, 2004, Manajemen Pendidikan, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Usman, Husaini, 2008, Manajemen:Teori,praktek dan riset pendidikan, Jakarta: Bumi Akasara




[1] Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan, (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1990), 5
[2]  Sondang  P. Siagian, Teori dan  Praktek Pengambilan Keputusan,…9
[3] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 54
[4] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah, (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1990), 64
[5] Husaini Usman, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2004), 368
[6] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah,...55
[7] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah,...57
[8] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah,...59
[9]  Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian Dan Masalah,...56
[10] Amirullah dan  Rindyah Hanafi, Pengantar Manajemen, (Jakarta: Graha Indah, 2002), 76
[11] Husaini Usman, Manajemen:Teori,praktek dan riset pendidikan,(Jakarta:Bumi Akasara,2008), 362 
[12] Amirullah dan  Rindyah Hanafi, Pengantar Manajemen,...76
[13] Husaini Usman, Manajemen:Teori,praktek dan riset pendidikan,...363
[14] Husaini Usman, Manajemen:Teori,praktek dan riset pendidikan,...373

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar