Sabtu, 20 Oktober 2012

Pendidikan Islam Masa Abbasiyah

PENDIDIKAN ISLAM MASA ABBASIYAH DI BAGHDAD
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM
Dosen Pembimbing
Prof.Dr.H.Miftah Arifin, M.Ag

  By. Imam Fathollah
PROGRAM PASCA SARJANA STAIN JEMBER
OKTOBER 2012
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berkembangnya pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meniru pola pendidikan Islam pada masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama’ setelahnya. Para ahli sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid.
Sejarah pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam sejatinya telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam itu sendiri. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meneladani model-model pendidikan Islam di masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya. Para ahli sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid.
Pada masa Nabi, masjid bukan hanya sebagai sarana ibadah, tapi juga sebagai tempat menyiarkan ilmu pengetahuan pada anak-anak dan orang-orang dewasa, disamping sebagai tempat peradilan, tempat berkumpulnya tentara dan tempat menerima duta-duta asing.Bahkan di masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, masjid yang didirikan oleh penguasa umumnya dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas pendidikan seperti tempat belajar, ruang perpustakaan dan buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan yang berkembang pada saat itu.Sebelum al-Azhar didirikan di Kairo, sesungguhnya sudah banyak masjid yang dipakai sebagai tempat belajar, tentunya dengan kebijakan-kebijakan penguasa pada saat itu.
Islam mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada saat itu, mayoritas umat muslim sudah bisa membaca dan menulis dan dapat memahami isi dan kandungan al-Quran dengan baik. Pada masa ini murid-murid di tingkat dasar mempelajari pokok-pokok umum yang ringkas, jelas dan mudah dipahami tentang beberapa masalah.Pendidikan di tingkat dasar ini diselenggarakan di masjid, dimana al-Quran merupakan buku teks wajib.Pada tingkat pendidikan menengah diberikan penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam dan rinci terhadap materi yang sudah diajarkan pada tingkat pendidikan dasar.Selanjutnya pada tingkat universitas sudah diberikan spesialisasi, pendalaman dan analisa.

B.     Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang tersebut berikut akan kami paparkan makalah dengan judul Pendidikan Islam Masa Abbasiyah di BaghdadAgar pembahasan dalam makalah ini lebih terfokus, maka kami paparkan  rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Sejarah berdirinya dinasti Bani Abbasiyah
  1. Lembaga-lembaga pendidikan pada masa Bani Abbasiyah
  2. Kemajuan Pendidikan Islam pada masa Bani Abbasiyah
  3. Tokoh-tokoh/ ilmuwan pada masa Bani Abbasiyah





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah
Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan, melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah Ibn Al-Abbas.Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H ( 750 M)  s.d 656 H (1258 M).[1]Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pamerintahandan politik itu, parasejarawan membagi masa  kekuasaan Daulah Abbasiyah dalam lima periode,[2] yaitu :
1.    Periode I (132 H/750 M – 232 H/ 847 M) masa pengaruh Persia Pertama
2.    Periode II (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M) Masa pengaruh Turki Pertama
3.    Periode III (334 H/945 M – 447 H/ 1055 M) masa kekuasaan Dinasti Buwaihi, pengaruh persi kedua.
4.    Periode IV (447 H/ 1055 M – 590 H/ 1194 M) masa bani saljuk, pengaruh Turki kedua.
5.    Periode V (590 H/1104 M – 656 M/ 1250 M) masa kebebasan dari pengaruh dinasti lain.
Daulah Abbasiyah mencapai puncak keemasan dan kejayaannya pada periode I, para kholifah pada masa periode I dikenal sebagai tokoh yang kuat, pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus.Kemakmuran masyarakat pada saat ini mencapai tingkat yang tinggi.Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid (786 M-809 M) dan putranya Al-Makmun (813 M-833 M). Kekayaan yang dimiliki khalifah Harun Al-Rasyid dan putranya Al-Makmun digunakan untuk kepentingan social seperti: lembaga pendidikan, kesehatan, rumah sakit, pendidikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasan. Al-makmun khalifah yang cinta kepada ilmu dan banyak mendirikan sekolah.[3]
Menurut Ahmad Syam, sebagaimana yang dikutip oleh Samsul Nizar dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Pendidikan Islam”  bahwa faktor-faktor  pendorong berdirinya Daulah Abbasiyah dan penyebab suksesnya, adalah sebagai berikut:[4]
1.    Banyak terjadi perselisihan antara bani Umayyah pada decade terakhir pemerintahannya, di antara penyebabnya yaitu memperebutkan kursi kekahalifahan dan harta.
2.    Pendeknya masa jabatan khalifah di akhir-akhir pemerintahan bani Umawiyah, seperti khalifah Yazid bin Al-Walid lebih kurang memerintah sekitar 6 bulan.
3.    Putra mahkota lebih dari jumlah satu orang seperti yang dikerjakan oleh Marwan bin Muhammad yang menjadikan anaknya Abdullah dan Ubaidillah sebagai putra mahkota.
4.    Bergabungnya sebagian afrad keluarga Umawi kepada madzhab-madzhab agama yang tidak benar menurut syari’ah, seperti Al-Qadariyah.
5.    Hilangnya kecintaan rakyat pada akhir-akhir pemerintahan bani Umawiyah.
6.    Kesombongan pembesar-pembesar  bani Umawiyah pada akhir pemerintahannya.
7.    Timbulnya dukungan dari Al-Mawali (non-Arab)
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya.Pada periode ini, segala potensi yang terkandung dalam kebudayaan yang didasari nilai-nilai Islam mulai bergerak secara perlahan namun strategis.Selain terjadi kemajuan pada bidang sosio-ekonomik, terjadi pada kemajuan pada bidang intelektual.Kemajuan intelektual tersebut ditunjang oleh kemajuan pendidikan baik institusi, insfrastruktur maupun kemajuan sains dan obyek-obyek studinya.[5]
Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan-gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan zindik di Persia, gerakan Syi’ah dan konflik antarbangsa serta aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

B.     Lembaga-Lembaga Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah
Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenal sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bersifat non fomal.Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengannya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas. Diantara lembaga-lembaga pendidikan Islam yang becorak non formal tersebut adalah :[6]
1.    Kuttab Sebagai Lembaga Pendidikan Dasar
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis.Jadi kataba adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya Islam Kuttab telah ada di negeri arab, walaupun belum banyak dikenal. Diantara penduduk makkah yang mula-mula belajar menulis huruf arab di kuttab ialah Sufyan ibnu Umayyah ibnu Abdu  Syams dan  Abu Qais Ibnu Abdi manaf ibnu Zuhroh ibnu Kilab.[7]


2.    Pendidikan Rendah  di Istana
Corak pendidikan anak-anak di istana berbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab-kuttab, pada umumnya di istana para orang tua siswa (para pembesar istana) yang membuat rencana pembelajaran selaras dengan anaknya dan tujuan yang ingin dicapai orang tuanya. Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis besarnya sama dengan pelajaran pada kuttab-kuttab hanya sedikit ditambah dan dikurangi sesuai dengan kehendak orang tua mereka.[8]
Guru yang mengajar di Istana disebut Muaddib.Kata muaddib berasal dari kata adab yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan.guru pendidikan di istana disebut muaddib karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan orang-orang terdahulu kepada anak-anak pejabat.[9]
3.    Rumah-Rumah Para Ulama’ (Ahli Ilmu Pengetahuan)
Walaupun sebenarnya, rumah bukanlah merupakan tempat yang baik untuk tempat memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, banyak juga  rumah-rumah para ulama’ dan ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena ulama’ dan ahli yang bersangkutan yang tidak mungkin memberikan pelajaran di masjid, sedangkan pelajar banyak yang berminat untuk mempelajari ilmu pengetahuan daripadanya.
Diantara rumah ulama’ terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al-Gazali, Ali ibnu Muhammad Al-Fasihi, Ya’kub Ibni Killis, Wazir khalifah Al-Aziz billah Al-fatimy, dan lain-lainnya.
4.    Rumah Sakit
Pada zaman jayanya perkembangan kebudayaan Islam, dalam rangka menyebarkan kesejahteraan dikalangan umat Islam, maka banyak didirikan rumah sakit oleh kholifah dan pembesar-pembesar Negara.Rumah-rumah sakit tersebut bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan.
5.    Perpustakaan 
Para ulama’  dan sarjana dari berbagai macam keahlian, pada umumnya menulis buku dalam bidangnya masing-masing dan selanjutnya untuk diajarkan atau disampaikan kepada para penuntut ilmu. Bahkan para ulama’  dan sarjana tersebut memberikan kesempatan kepada para penuntut ilmu untuk belajar diperpustakaan pribadi mereka.
Baitul hikmah di Baghdad yang didirikan khalifah Al-Rasyid adalah merupakan salah satu contoh dari perpustakaan Islam yang lengkap, yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dan bahasa arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pada masa itu.[10]
Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas karena disamping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.[11]
6.    Masjid
Semenjak berdirinya dizaman nabi Muhammad SAW masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupan kaum muslimin.Ia, menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerangan agama dan informasi lainnya dan tempat menyelenggarakan pendidikan.
Pada masa Bani Abbas dan masa perkembangan kebudayaan Islam, masjid-masjid yang didirikan oleh para pengusaha pada umumnya di perlengkapi dengan berbagai macam sarana dan fasilitas untuk pendidikan.[12]


C.  Kemajuan Pendidikan IslamPada Masa Bani Abbasiyah
Pada masa Abbasiyah banyak kemajuan- kemajuan dalam bidang pendidikan diantaranya yaitu:
1.    Kemajuan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Bani Abbas
Dibidang ilmu pengetahuan masa abbasiyah mencatat dimulainya sistemasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqh. Khususnya sejak tahun 143 H. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sistematis baik dibidang ilmu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqh.[13]
Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah Ibnu Juraij (w.150 H) yang menulis kumpulan hadisnya dimekah, Malik Ibn Anas (w.171 H) yang menulis al muwatta` nya di madinah, Al Awza`I di wilayah syam, Ibn Abi Urubah dan Hammad Ibn salamah di Basrah, Ma`mar di Yaman, Sufyan Al Tsauri di kufah, Muhamad Ibn Ishaq (w.175 H) yang menulis buku sejarah (Al Maghazi) Al Layts Ibn Sa`ad (w.175 H) serta Abu Hanifah.
Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari Naqli (Al Qur’an dan Hadits), yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama Islam.[14]Ilmu-ilmu itu diantaranya :
a.    Ilmu Tafsir
Al Quran adalah sumber utama dalam agama Islam. oleh karena itu semua perilaku umat Islam harus berdasarkan kepadanya, hanya saja tidak semua bangsa Arab memahami arti yang terkandung di dalamnya. Maka bangunlah para sahabat untuk menafsirkan, ada dua cara penafsiran, yaitu : yang pertama, tafsir bi al ma`tsur, yaitu penafsiran Al Quran berdasarkan sanad meliputi al Qur’an dengan al Qur’an, al Qur’an dengan aL Hadits. Yang kedua, tafsir bi ar ra`yi, yaitu penafsiran Al Qur’an dengan mempergunakan akal dengan memperluas pemahaman yang terkandung didalamnya.
Ahli tafsir bi al ma`tsur dipelopori oleh As Subdi (w.127 H), Muqatil bin Sulaiman (w.150 H), dan Muhamad Ishaq. Sedangkan tafsir bi ar ra`yi banyak dipelopori oleh golongan Mu`tazilah.Mereka yang terkenal antara lain Abu Bakar al Asham (w.240 H), Abu Muslim al Asfahani (w.522 H) dan Ibnu Jarwi al Asadi (w.387 H).[15]
b.      Ilmu Hadits
Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Karena kedudukannya itu, maka setiap muslim selalu berusaha untuk menjaga dan melestarikannya. Pada masa Abbasiyah, kegiatan pengkodifikasian/ pembukuan Hadits dilakukan dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya.Sejarah penulisan hadis-hadis Nabi memunculkan tokoh-tokoh seperti Ibn Juraij, Malik ibn Anas, juga Rabi` ibn Sabib (w.160 H) dan ibn Al Mubarak (w.181 H).
Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga, muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Di antara tokoh yang menulis musnad, antara lain Ahmad ibn Hanbal, Ubaydullah ibn Musa al `Absy al Kufi, Musaddad ibn Musarhad al Basri, Asad ibn Musa al Amawi dan Nu’aim ibn Hammad al Khuza’I, perkembangan penulisan hadits berikutnya, masih pada era Abbasiyah, yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga, muncul tren baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan Hadits, yaitu munculnya kecenderungan penulisan Hadits yang di dahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan hadits-hadits sahih dari yang dha’if sebagaimana dilakukan oleh al Bukhari (w.256 H), Muslim (w.261 H), Ibn Majah (w.273 H), Abu Dawud (w.275 H), Al Tirmidzi (w.279 H), serta Al Nasa’I (w.303 H), yang karya-karya haditsnya dikenal dengan sebutan Kutubu Al- Sittah.

c.       Ilmu Fiqh
Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting, dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazhab fiqh hidup pada era tersebut, yaitu Abu Hanifah (w.150 H), Malik ibn Anas (w.179 H), Al Shafi’I (w.204 H), dan Ahmad ibn Hanbal (w.241 H).dari sini memunculkan dua aliran yang berbeda dalam metode pengambilan hukum, yaitu ahli Hadits dan ahli ra`yi. Ahli hadits dalam pengambilan hukum, metode yang dipakai adalah mengutamakan hadits-hadits nabi sebagai rujukan dalam istinbat al ahkam.Pemuka aliran ini adalah Imam Malik dengan pengikutnya, pengikut imam Syafi’I, pengikut Sufyan, dan pengikut Imam Hanbali.Sedangkan ahli ra’yi adalah aliran yang memepergunakan akal dan fikiran dalam menggali hukum.Pemuka aliran ini adalah Abu Hanifah dan teman-temannya fuqaha dari Iraq.
d.      Ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf yaitu ilmu syariat. Inti ajarannya ialah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan atau menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia.[16] Dalam sejarahnya sebelum muncul aliran Tasawuf, terlebih dulu muncul aliran Zuhud. Aliran ini muncul pada akhir abad I dan permulaan abad II H, sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar Negara sebagai akibat kejayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syria, mesir, Mesopotamia, dan Persia. Aliran zuhud mulai nyata kelihatan di kufah. Sedangkan dibasrah sebagai kota yang tenggelam atas kemewahan, aliran zuhud mengambil corak yang lebih ekstrim. Zahid yang terkenal disini adalah Hasan al Bisri dan Rabi’ah al Adawiyah.
Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulamanya, antara lain adalah al Qusyairy (w.465 H), kitab beliau yang terkenal adalah ar risalatul Qusy Airiyah; Syahabuddari, yaitu abu Hafas Umar ibn Muhammad Syahabuddari Sahrowardy (w.632 H), kitab karangannya adalah Awwariffu Ma’arif; Imam Ghazali (w.502 H), kitab karangannya antara lain : al Basith, Maqasidul, Falsafah, al Manqizu Minad Dhalal, Ihya Ulumuddin, Bidayatul Hidayah, Jawahirul Qur’an, dan lainsebagainya.
e.    Ilmu Bahasa
Pada masa bani Abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya, karena bahasa Arab semakin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Ilmu bahasa memerlukan suatu ilmu yang menyeluruh, yang dimaksud ilmu bahasa adalah: nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, bad’arudh, qamus, dan insya’.Di antara ulama yang termasyhur adalah : 1) Sibawaih (w.153 H), 2) Muaz al Harro (w.187 H), mula-mula membuat tashrif, 3) Al Kasai (w.190 H), pengarang kitab tata bahasa, 4) Abu Usman al Maziny (w.249 H), karangannya banyak tentang nahwu.
2.    Metode Pendidikan Pada Masa Abbasiyah
Dalam proses belajar mengajar, metode pendidikan/pengajaran merupakan salah satu aspek pendidikan/pengajaran yang sangat penting guna mentransfer pengetahuan atau kebudayaan dari seorang guru kepada para muridnya. Melalui metode pengajaran terjadi proses internalisasi dan pemilikan pengetahuan oleh murid hingga murid dapat menyerap dan memahami dengan baik apa yang telah disampaikan gurunya.
Pada masa Dinasti abbasiyah metode pendidikan/pengajaran yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam: lisan, hafalan, dan tulisan.
a.      Metode Lisan
Metode lisan berupa dikte, ceramah, qira’ah dan diskusi. Metode dikte (imla’) adalah metode penyampaian pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena dengan imla’ ini murid mempunyai catatan yang akan dapat membantunya ketika ia lupa. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku cetak seperti masa sekarang sulit dimiliki.
Metode ceramah disebut juga metode as-sama’, sebab dalam metode ceramah, guru menjelaskan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya.Metode qiro’ah biasanya digunakan untuk belajar membaca sedangkan diskusi merupakan metode yang khas pada masa ini.
b.      Metode Menghafal
Metode menghafal Merupakan ciri umum pendidikan pada masa ini.Murid-murid harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga pelajaran tersebut melekat pada benak mereka, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Hanafi, seorang murid harus membaca suatu pelajaran berulang kali sampai dia menghafalnya. Sehingga dalam proses selanjutnya murid akan mengeluarkan kembali dan mengkonstektualisasikan pelajaran yang dihafalnya sehingga dalam diskusi dan perdebatan murid dapat merespons, mematahkan lawan, atau memunculkan sesuatu yang baru.
c.       Metode Tulisan
Metode tulisan dianggap metode yang paling penting pada masa ini.Metode tulisan adalah pengkopian karya-karya ulama. Dalam pengkajian buku-buku terjadi proses intelektualisasi hingga tingkat penguasaan ilmu murid semakin meningkat. Metode ini disamping berguna bagi proses penguasaan  ilmu pengetahuan juga sangat penting artinya bagi penggandaan jumlah buku teks, karena pada masa ini belum ada mesin cetak, dengan pengkopian buku-buku kebutuhan terhadap teks buku sedikit teratasi.[17]
3.    Materi Pendidikan Pada Masa Abbasiyah
Materi pendidikan dasar pada masa daulat Abbasiyah terlihat ada unsur demokrasinya, disamping materi pelajaran yang bersifat wajib (ijbari) bagi setiap murid juga ada materi yang bersifat pillihan (ikhtiari).Hal ini tampaknya sangat berbeda dengan materi pendidikan dasar pada masa sekarang.Di saat sekarang ini materi pendidikan tingkat dasar dan menengah semuanya adalah materi wajib, tidak ada materi pilihan.Materi pilihan baru ada pada tingkat perguruan tinggi.
Menurut Mahmud  Yunus dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam”, yang dikutip oleh Suwito menjelaskan tentang materi pelajaran yang bersifat wajib (ijbari) sebagai berikut :
a)    Al-Qur’an
b)   Shalat
c)    Do’a
d)   Sedikit ilmu nahwu dan bahasa arab (maksudnya yang dipelajari baru pokok-pokok dari ilmu nahwu dan bahasa arab belum secara tuntas dan detail).
e)    Membaca dan menulis
Sedangkan materi pelajaran ikhtiari (pilihan) ialah ;
a)        Berhitung
b)        Semua ilmu nahwu dan bahasa arab (maksudnya nahwu yang berhubungan dengan ilmu nahwu dipelajari secara tuntans dan detail);
c)        Syair-syair
d)       Riwayat/ Tarikh Arab.[18]

D.  Tokoh-Tokoh/ Ilmuwan Masa Abbasiyah
Sejak upaya penerjemahan meluas, kaum muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut memperluas peyelidikan ilmiah, memperbaiki atas kekeliruaan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat-pendapat atau ide baru.Untuk mengungkap rahasia alam, para ilmuan mulai mencari manuskrip-manuskrip klasik peninggalan ilmuwan Yunani Kuno, seperti karya Aristoteles, Plato, Socrates, dan sebagainya.Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian dibawa ke Baghdad, lalu diterjemahkan dan dipelajari di perpustakaan yang merangkap sebagai lembaga penelitian, Baitul Hikmah, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Tokoh-tokohnya antara lain sebagai berikut :
1.    Bidang filsafat antara lain tercatat:  Al-Farabi, banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibnu Sina (Avicenna) juga mengarang tentang buku filsafat yang terkenal diantaranya ialah al Syifa dan Ibnu Rusyd banyak berpengaruh di Barat lebih dikenal dengan nama (Averroes), sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.[19]
2.    Bidang Kedokteran  : Ibnu Sina (Avicenna), bukunya yang fenomenal yaitu al-Qanun fi al-Tiib. Ia juga berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Al-Thabari, Ar-Razi (Rhazes).
3.    Bidang ilmu fiqih terkenal nama Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-Syafi’ie, dan Ahmad bin Hanbal.
4.    Bidang ilmu kalam ada Washil bin Atha, Ibnu Huzail, Al-Asy’ari, dan Maturidi.
5.    Bidang ilmu Tafsir adaIbn Jarir ath -Thabari dan Zamakhsyari.
6.    Bidang lmu hadits, yang paling populer adalah Bukhari dan Muslim.
7.    Bidang ilmu tasawuf terdapat Rabi’ah Al- Adawiyah, Ibnu ‘Arabi, Al-Hallaj, Hasan al-Bashri, dan Abu Yazid Al-Bustami.[20]
8.    Sejak Akhir abad ke-10, muncul sejumlah tokoh wanita dibidang ketatanegaraan dan politik seperti Khaizura, Ulayyah, Zubaidah, dan Bahrun. Di bidang kesusastraan dikenal Zubaidah dan Fasl. Di bidang Sejarah, muncul Shalikhah Shuhda. Di bidang kehakiman, muncul Zainab Umm Al Muwayid. di bidang seni musik, Ullayyah dikenal dan sangat tersohor pada waktu itu.
9.    Bidang Astronomi : Al-Fazari, astronom Islam yang pertama kalimenyusun astrolobe.
10.     Bidang Optik :Ibnu Haytsam dan Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythani (al-Hazen), terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihatnya.
11.     Bidang Kimia : Jabir ibn Hayyan, ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak
12.     Bidang Matematika : Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi.
13.     Bidang Sejarah : Al-Mas’udi, diantara karyanya adalah Muruj al-Zahab wa Ma’adin al-Jawahir Ibn Sa’ad
14.     Bidang geografi ada Al-Khawarizmi, Al-Ya’qubi, dan Al-Mus’udi.
Demikian kemajuan dan perkembangan pendidikan Islamyang pernah dicapai pada masa Abbasiyah.Sampai sekarangpun diakui bahwa pada periode sejarah peradaban Islam yang paling cemerlang dan mencapai masa keemasannya terjadi pada masa pemerintahan daulat abbasiyah di Bagdad.
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan tentang Pendidikan Islam Masa Abbasiyah di Baghdad , maka dapat disimpulkan:
1.      Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah.Puncak keemasan  dan kejayaannya terjadi pada periode I terutama pada masa Khalifah Harun al Rasyid(786M-809M) dan putranya al-Makmum (813M-833M) yang sangat fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan.
2.      Lembaga-lembaga pendidikan baik yang sudah ada sebelumnya kemudian dilanjutkan pada masa Abbasiyah diantaranya : a). Kuttab b). pendidikan rendah istana c). Rumah-rumah para ulama’ d). rumah sakit  e).  perpustakaan dan f). masjid.
3.      Kemajuan pendidikan Islam dapat dilihat dari metode-metode dan materi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Metode pendidikan yang digunakan ada tiga macam : 1) metode lisan, dengan system imla, ceramah, qira’ah dan diskusi. 2). Metode menghafal, dimana murid-murid diharuskan membaca berulang-ulang pelajarannya sampai melekat dibenak mereka. 3). Metode tulisan, yaitu pengkopian karya-karya ulama.  Materi pelajaran yang digunakan ada yang bersifat wajib (ijbari) dan bersifat pilihan (ikhtiari). Materi yang bersifat wajib ialah  : Al-Qur’an, shalat, do’a, sedikit ilmu nahwu dan bahasa arab dan membaca dan menulis. Sedangkat materi yang bersifat pilihan ialah : berhitung, semua ilmu nahwu dan bahasa arab secara keseluruhan, sya’ir-sya’ir dan riwayat/ tarikh Arab.
4.      Pada masa Abbasiyah muncul ilmuwan-ilmuwan muslim yang turut memperluas dan mengembangkan metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sehingga tumbuhlah sarjana-sarjana yang ahli sesuai bidang keilmuan yang dimiliki, diantaranya : Alfarabi, Ibnu Sina, Al-farghani, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Al-Syafi’ie Bukhari dan Muslim, Rabi’ah Al- Adawiyah dan Ahmad bin Hambal, dan banyak lagi yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Muchtarom, Zuhairi, 1995, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Nizar, Samsul, 2011, Sejarah Pendidikan Islam: menelusuri jejak sejarah pendidikan era Rasulullah sampai Indonesia, Jakarta: Kencana.

Soebahar, Abd. Halim ,2002, Wawasan Baru Pendidikan Islam,  Jakarta : Kalam Mulia.

Suwito,  2008, Sejarah Sosial Pendidikan Islam,  Jakarta. Kencana

Syam,Ahmad , 1986, Daulah Al-Islamiyah fi Al-‘Asry Al-Aabasy Al-Awal, Maktabah Al Jalu Al Misriyah.

Yatim, Badri,  2010, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers














[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: rajawali pers, 2010), 49
[2] Bojena Gajane Stryzeswska, Tarikh al Daulat al Islamiyah, (Beirut : al Maktab al Tijari , Tanpa tahun), 360
[3] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta. Kencana, 2008), 11
[4]Ahmad Syam, Daulah Al-Islamiyah fi Al-‘Asry Al-Aabasy Al-Awal,( Maktabah Al Jalu Al Misriyah, 1986)
[5]Abd. Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, ( Jakarta, Kalam Mulia, 2002), 95
[6] Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 1995), 89
[7] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan …,12
[8] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan …, 13
[9] Zuhairi Muchtarom, Sejarah pendidikan …,, 92
[10] Zuhairi Muchtarom, Sejarah Pendidikan…, 98
[11] Badri Yatim, Sejarah Peradaban …, 55
[12] Zuhairi Muchtarom, Sejarah pendidikan …, 99
[13]Muhammad Sahrul Murajjab, “Peradaban Emas Bani Abbasiyah: Kajian Ringkas” (http;//www.inpansonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=371;peradaban-emas-dinasti-abbasiyah-kajian-ringkas,sejarah-peradaban-islam&ltemid=97,diakses1 oktober 2012)
[14] Kutilang “Masa Keemasan Islam Bani Abbasiyah” (http;//one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang-/masa-keemasan-islam-bani-abbasiyah., diakses 2 oktober 2012)
[15] M. Fa`alFaksain, Sejarah Kekuasaan Islam, (Jakarta : Artha Rivera,2003), 70-71
[16]Hitsuke, “Pembangunan daulah Bani Abbas” (http;//hitsuke.blogspot.com/2011/01/daulah-abbasiyah.html, diakses : 2 Oktober 2012)
[17]Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan …, 14
[18]Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan …, 15
[19]Badri Yatim, Sejarah Peradaban…, 59
[20]M.Nur Hasan Basri, Peran Islam dalam Kemajuan Eropa,( Serambi Indonesia, edisi 19 Maret 2001.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar